SAMOSIR (BK)
Sejumlah petani di Desa Lumban Pinggol, Kecamatan Pangururan, Kabupaten Samosir, Sumatera Utara, mengeluhkan hasil produksi jagung hibrida N137 Piton yang dinilai belum sesuai harapan.
Keluhan itu muncul setelah tanaman memasuki masa produksi. Meski pertumbuhan tanaman secara kasat mata terlihat cukup baik, hasil yang diperoleh petani disebut belum sebanding dengan biaya produksi yang telah dikeluarkan.
“Kami berharap ada pendampingan dan pengecekan yang jelas. Kalau hasilnya tidak sesuai harapan, tentu kami sebagai petani mengalami kerugian. Biaya pengolahan lahan, pupuk, tenaga kerja dan kebutuhan lainnya cukup besar,” ujar LS, salah seorang petani, Selasa (12/8/2026).
Petani berharap Dinas Pertanian Kabupaten Samosir turun langsung ke lapangan untuk melihat kondisi tanaman sekaligus melakukan evaluasi terhadap lahan yang menggunakan benih N137 Piton.
“Kami bukan menyalahkan siapa-siapa. Kami hanya ingin ada pengecekan dan solusi. Kalau memang ada faktor lain yang menyebabkan hasilnya rendah, kami ingin mengetahuinya agar ke depan tidak mengalami kerugian lagi,” kata LS.
Para petani juga membandingkan pengalaman mereka dalam menggunakan berbagai jenis benih jagung. Menurut mereka, benih Pioneer P32 dinilai memiliki hasil yang selama ini sulit ditandingi dibandingkan benih yang pernah mereka gunakan.
“Kalau soal pengalaman kami sebagai petani, Pioneer P32 memang belum ada tandingannya. Tapi kami tidak menutup diri terhadap benih lain. Kami hanya berharap setiap benih yang digunakan benar-benar memberikan hasil sesuai dengan harapan dan biaya yang kami keluarkan,” ujar petani.
Para petani jagung menegaskan, mereka tidak menolak penggunaan benih unggul. Sebaliknya, mereka berharap penggunaan benih tersebut mampu meningkatkan produktivitas sekaligus memberikan dampak nyata terhadap pendapatan petani.
Karena itu, petani meminta keluhan tersebut segera ditindaklanjuti melalui pengecekan lapangan dan pendampingan secara maksimal serta objektif. Mereka berharap penyebab rendahnya hasil produksi dapat diketahui sehingga menjadi bahan evaluasi untuk musim tanam berikutnya.
(Candro Situmorang)
